Dalam kehidupan yang kita jalani ini, tentu berbagai persoalan dan masalah akan kita hadapi, persoalan dan masalah tersebut sebagai wujud kecintaan Allah kepada kita sehingga kita selalu mengingat Nya untuk itu perlu kita belajar tiga hal belajar bersukur,belajar penghormatan, belajar mendoakan orang lain
Tampilkan postingan dengan label unamin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label unamin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Mei 2011

8 kebohongan ibu pada anaknya

aslkum..........
Teman2 sekalian, buat renungan doang nih,
Insya Allah bermanfaat, amien... 

" Seumur hiduppun kita menggendong 
orangtua di pundak kita, tidak akan bisa 
membalas jasa-jasa orang tua kita " 
Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
 
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu seringmemberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
 
"Makanlah nak, aku tidak lapar" --------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
 
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan anaknya.
 
Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata:
"Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan" --------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
 
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.
 
" Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek" --------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
 
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergiujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yangtegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku.Teh yang begitu kental tidak
dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :
 
"Minumlah nak, aku tidak haus!" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
 
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harusmembiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpapenderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihatkehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untukmenikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata:
 
"Saya tidak butuh cinta" --------- KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
 
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah danbekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untukmemenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu,tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirimbalik uang tersebut. Ibu berkata :
 
"Saya punya duit" --------- KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
 
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudianmemperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkatsebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu.Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku
 
"Aku tidak terbiasa" --------- KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
 
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkenapenyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatansangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebardi wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya.Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambilberlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisiseperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata :
 
"jangan menangis anakku,Aku tidak kesakitan" --------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
 
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya  untuk yang terakhir kalinya.
                      
                        ---ooOOOoo---
 
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu, dan terimakasih ayah ! " Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untukberbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..
 
Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah ang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" dikemudian hari.
 
READ MORE - 8 kebohongan ibu pada anaknya

Jumat, 01 April 2011

Supermoon bukan penyebab gempa Jepang 2011

http://rovicky.files.wordpress.com/2007/11/lintasan3d.jpg?w=245&h=212&h=212



Berdasarkan data astronomi, pada Sabtu, 19 Maret pukul 19.10 GMT atau Ahad, 20 Maret pukul 02.10 WIB, jarak bulan dengan bumi sejauh 356.577 kilometer. Jarak terjauh bulan dengan bumi yang terjadi pada Desember mendatang terentang 364 ribu kilometer. Adapun puncak purnama akan terjadi satu jam sebelumnya, pada 19 Maret pukul 18.11 GMT atau 20 Maret pukul 01.11 WIB. [Tempo Interaktif]
Sepenggal berita diatas banyak diperbincangkan karena dituduh menyebabkan gempa-tsunami Jepang 2011. Namun dongengan dibawah menjelaskan bahwa sedikit kemungkinan bahwa bulan telah memicu gempa-tsunami Jepang 2011.
“pertanyaan : dulu bilang bulan bisa memicu gempa?”
“Ya, Tapi juga sudah mewanti-wanti bahwa itu masih dugaan, bukan kepastian seperti yg ditulis disini“
jawaban:
Super Moon
Super Moon atau bulan kelihatan sangat besar karena dekat dengan bumi sering diduga penyebab gempa. Lebih tepatnya sebagai pemicu, sekali lagi pemicu gempa. Tulisan tentang ini pernah ditulis disini. Namun gempa-tsunami Jepang 2011 ini tidak tepat pada tanggal itu.
Dibawah ini grafik yang menunjukkan jarak bumi-bulan sepanjang tahun 2011. Untuk jelasnya apa itu apogee-perigee silahkan baca dongengan sebelumnya disini.


Dari gambar diatas terlihat bahwa pada tanggal 11 Maret 2011, jarak bumi-bulan bukan pada posisi ekstrim, baik ekstrim apogee maupun perigee. Bahkan posisi bulan perigee terjadi pada tanggal 19 Maret 2011 dengan jarak sebesar 356.577 kilometer. Jarak ini memang terpendek selama 19 tahun ini.



Peredaran Matahari-Bumi-Bulan
Supermoon adalah saat dimana posisi bulan berada pada posisi terdekat dengan bumi. Posisi bumi-bulan ini jaraknya berubah-ubah karena peredaran bulan tidaklah berupa lingkaran, tetapi berupa elips. Namun peredaran elipsnyapun bukan elips sempurna, karena bumi sendiri beredar berupa elips juga terhadap matahari.
Tanggal supermoons antara tahun 1950 dan 2050 .
Ada sekitar 4-6 supermoons per tahun. Berikut ini adalah daftar dari masa lalu dan diprediksi supermoons ekstrim.
• 10 November 1954
• 20 November 1972
• 8 Januari 1974
• 26 Februari 1975
• 2 Desember 1990
• 19 Januari 1992
• 8 Maret 1993
• 10 Januari 2005
• 12 Desember 2008
• 30 Januari 2010
• 19 Maret 2011
• 14 November 2016
• 2 Januari 2018
• 21 Januari 2023
• 25 November 2034
• 13 Januari 2036



Hipotesa efek gravitasi bulan sebagai pemicu pegas (gempa).
Memang selama ini peredaran bulan sering dihubungkan dengan terjadinya gempa seperti yang ditulis sebelumnya disini. Hal ini memang belum menjadi sebuah kesimpulan ilmiah, namun masih terus diteliti apakah benar bulan mampu menjadi pemicu, dan kondisi lain apakah yang mempengaruhinya.
Mekanismenya digambarkan seperti disebelah ini.
Jadi masih belum bisa dipastikan bahwa bulan akan menjadi pemicu karena masih ada faktor-faktor lain yang memungkinkan mekanismenya tidak hanya gravitasi bulan saja. Sangat mungkin bahwa kondisi tektonik dibumi itu sendiri lebih banyak mengontrol terpicunya gempa.
“Jadi pemicunya gempa itu apa Pakdhe?”
“Thole diketahuinya tektonik menyebabkan gempa juga belum lama. Teori tektonik lempeng juga baru diketemukan 60 tahun yang lalu. Masih perlu penelitian. Jepang yang riset gempanya sangat maju saja masih belum mampu memprediksi gempa-tsunami terbesarnya”
Tabel jarak Bumi-Bulan tahun 2011
Tanggal Waktu GMT Jarak Bumi-Bulan (km)
10-Jan 5:39:00 404975
22-Jan 0:11:00 362792
6-Feb 11:14:00 405923
19-Feb 7:28:00 358246
6-Mar 7:51:00 406582
19-Mar 7:10:00 356577
2-Apr 9:01:00 406655
17-Apr 6:01:00 358087
29-Apr 6:03:00 406042
15-May 11:19:00 362132
27-May 9:59:00 405004
12-Jun 1:43:00 367187
24-Jun 4:14:00 404274
7-Jul 2:05:00 369565
21-Jul 10:48:00 404356
2-Aug 9:00:00 365755
18-Aug 4:24:00 405159
30-Aug 5:36:00 360857
15-Sep 6:24:00 405159
28-Sep 1:02:00 357555
12-Oct 11:44:00 406434
26-Oct 12:27:00 357050
8-Nov 1:21:00 406176
23-Nov 11:25:00 359691
6-Dec 1:14:00 405412
22-Dec 2:58:00 364800
READ MORE - Supermoon bukan penyebab gempa Jepang 2011

Rabu, 30 Maret 2011

tugas teknik pantai

Kerentanan Masyarakat Pesisir Indonesia
terhadap Perubahan Iklim Laut

1.Pendahuluan
Sebagai negara kepulauan dengan jumlah pulau 17.504 dan panjang garis pantai 81000 km, Indonesia sangat rentan terhadap kenaikan muka air laut. Nicholls, dkk. (2000) memetakan daerah rentan terhadap kenaikan muka air laut setinggi 45 cm pada tahun 2080 (Gambar 1). Prediksi terakhir yang dibuat oleh Working Group I Panel Antar-Pemerintah tentang Perubahan Iklim pada bulan Februari 2007 yang berhubungan dengan laut menunjukkan bahwa tingkat muka air laut naik rerata sebesar 2,5 mm/tahun dan diperkirakan akan terus mencapai 31 mm pada dekade berikutnya. Panel Antar-Pemerintah tentang Perubahan Iklim dalam laporannya mengupas secara tajam dampak dan kerentanan secara regional
Gambar 1 Peta Daerah Rentan dengan Asumsi Kenaikan Muka Air Laut 45 cm pada Tahun 2080 (Nicholls dkk., 2000)


2. Dampak Perubahan Iklim Laut di Indonesia
Berikut beberapa catatan tentang kemungkinan dampak perubahan iklim laut yang akan menimpa Indonesia.
1. Wilayah yang paling rentan dan sekaligus paling parah mengalami dampak perubahan iklim adalah negara-negara kepulauan. Meningkatnya tinggi muka laut dan suhu air laut akan meningkatkan erosi, mengurangi daya tahan alami bakau dan terumbu karang, dan pada gilirannya menghantam industri pariwisata. Tanpa peningkatan kemampuan beradaptasi, negara kepulauan akan mengalami peningkatan suhu udara dan akan menderita lebih parah lagi karena berkurangnya produksi pangan dan pasokan air bersih.
2. Dalam waktu kurang dari lima puluh tahun, sebagian terbesar daratan Asia hampir dipastikan akan mengalami dampak yang hebat dari banjir, kekeringan, dan kelaparan. Dampak ini menimpa lebih dari satu miliar penduduk Asia. Angka ini sangat fantastis karena dalam 10 tahun mendatang jumlah penduduk yang akan terpengaruh baru sepersepuluhnya.
3. Peningkatan tinggi muka air laut yang akan menggenangi kawasan yang dihuni jutaan manusia di delta dan daerah aliran sungai-sungai besar seperti Musi, Mahakam, Ciliwung, Cimanuk, Citarum, Bengawan Solo, dan Memberamo.
4. Mengenai variabilitas iklim, kondisi dan prediksi IOD (Indian Ocean Dipole) + El Nino, belakangan ini memang agak unik. Di Samudra Hindia terjadi fenomena IOD positif, sementara di Samudra Pasifik terjadi fenomena La Nina. Gabungan IOD positif dan La Nina ini sangat jarang terjadi. Terakhir muncul 40 tahun yang lalu, yaitu tahun 1967-1968. Dengan melemahnya fase p-IOD di Samudra Hindia dan menguatnya sinyal La Nina di Samudra Pasifik, terjadilah hujan di berbagai kawasan sebelah barat Samudra Pasifik, termasuk Indonesia. BMG mencatat terjadi peningkatan curah hujan yang cukup signifikan di sebagian besar wilayah pulau Jawa jika dibandingkan dengan periode yang sama untuk bulan-bulan sebelumnya. Dampak dari kenaikan curah hujan, khususnya di wilayah Jakarta sudah dirasakan penduduk di kawasan langganan banjir
5. Tentang pengaruh Pemanasan Global terhadap badai tropis, menurut penelitian Vecchi dan Soden (2007), badai semakin intens di Samudra Pasifik (Juni-November) dan di Samudra Hindia (Desember-Mei). Bahkan Professor Yamagata pada bulan Oktober 2007 di Hiroshima menerangkan bahwa ada evolusi El Nino menjadi El Nino Modoki (pseudo) sebagai penyebab badai Katrina di Amerika beberapa waktu yang lalu.
6. Gejala munculnya badai tropis di sekitar wilayah Indonesia lebih disebabkan oleh induksi akibat rotasi siklonik badai tropis yang masih berpengaruh sampai lintang 5° LU (Ahrens, 1993), sementara itu wilayah selatan yang dibatasi garis lintang 11° LS berada di luar kisaran. Badai tropis ini melepas energinya lewat angin yang bertiup kencang disepanjang perairan yang dilewatinya. Laut akan menyalurkan energi tersebut dalam bentuk gelombang yang menjalar mengikuti kontur batimetri dan teredam di perairan pantai akibat efek kedangkalan.
7. Energi besar yang disalurkan tersebut menyebabkan volume air didorong ke pantai meningkat dengan tajam (storm surge). Dan apabila hal ini bersamaan waktunya dengan saat pasang tinggi (high tide), badai pasang ini akan melanda wilayah pantai dan sekitarnya. Gelombang Pasang ini dikenal sebagai Tidal Bore, menjalar dari lepas pantai masuk ke mulut sungai dengan kecepatan sekitar 5 m/detik (10 knot) dan tinggi 2,5 m. Pada wilayah perairan Indonesia yang mempunyai muara sungai yang cukup banyak dan dipengaruhi oleh gaya pasang surut serta diapit oleh Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, tersimpan peluang sering terjadinya fenomena Tidal Bore.


Gambar 2
Daerah pantai pada ketinggian kurang dari 10 meter di atas permukaan air laut dengan kepadatan penduduk lebih dari 1.000/km² (IIED, 2007).
3. Masyarakat Pesisir Paling Rentan
Karena pentingnya dampak dan kerentanan tersebut, Universitas Columbia menerbitkan sebuah peta yang menunjukkan bahwa daerah pantai pada ketinggian kurang dari 10 meter di atas permukaan air laut dengan kepadatan penduduk lebih dari 1.000/km² yang rentan terhadap kenaikkan permukaan air laut di Indonesia (gambar 2), seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya adalah kota yang diperkirakan akan mengalami dampak paling parah akibat kenaikan permukaan air laut (CIESIN, 2007).

4. Penutup
Dampak perubahan iklim laut merupakan tantangan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Tulisan ini akan memaparkan beberapa langkah yang diperlukan, antara lain :
1. Perumusan upaya mengurangi kerentanan kota pantai akibat dampak fenomena perubahan iklim laut, seperti Gelombang Pasang (Tidal Bore), Gelombang Badai (Storm Surge), Alun (swell), Rob (Coastal Inundation), IOD, El Nino/La Nina dan perubahan paras laut memang diperlukan sedini mungkin.
2. Upaya utama yang patut segera dilakukan adalah menyusun Rencana Strategis Program Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Laut di Indonesia. Indonesia memiliki panjang pantai sekitar 81.000 km, dengan muara sungai yang cukup banyak dan sekitar 41,6 juta penduduk Indonesia tinggal didaerah dengan ketinggian 10 meter di atas permukaan air laut. Artinya, mereka merupakan penduduk Indonesia yang paling rentan terhadap perubahan permukaan air laut (IIED, 2007). Karena itu, pemetaan daerah rentan dan perhitungan dampak ekonomisnya di Indonesia menjadi sangat mendesak untuk dilakukan.
3. Identifikasi tingkat kerentanan berbagai unsur ekosistem untuk berbagai Tipe Pantai baik itu Rona Lingkungan Pantai Alami dan maupun Rona Lingkungan Binaan (Kota/Desa) sangat diperlukan untuk menghadapi dampak perubahan dan variabilitas iklim laut.
4. Menentukan pengurangan dampak bukan hanya terhadap unsur prasarana dan sarana, dan /atau sumberdaya alamnya, melainkan juga risikonya terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Karena itu, penangannya bukan hanya melakukan pengelolaan dan pemantauan Lingkungan/Sumberdaya Alam di Pantai dan Laut, melainkan juga penanggulangan terhadap Populasi di Kota Pantai, baik sebelum kejadian tiba, maupun selama dan pascakejadian.
5. Penentuan dampak perubahan dan variabilitas iklim laut di Indonesia harus mempertimbangkan 4 langkah analisis, yaitu zonasi, penentuan tingkat perlindungan, penentuan teknologi perlindungan, dan penentuan biaya perlindungan berdasarkan skenario yang dipilih.
Saran
1. Dampak perubahan iklim laut seperti kenaikan muka air laut, Gelombang Pasang (Tidal Bore), Gelombang Badai (Storm Surge), Alun (swell), Rob (Coastal Inundation), sudah sangat terasa di Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan proporsi penduduk yang sangat besar di wilayah pesisir, sangat penting untuk segera dilakukan observasi dan pemetaan daerah rentan dan perhitungan dampak ekonomis yang akan timbul.
2. Hasil observasi dan pemetaan daerah rentan dan perhitungan dampak ekonomis akan sangat membantu dalam alokasi dana pembangunan. Dengan demikian, diharapkan pelaksanaan pengelolaan sumberdaya alam yang efektif, adil, dan berkelanjutan akan terwujud.

READ MORE - tugas teknik pantai

TUGAS TEKNIK SUNGAI

sungai citarun


DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS), EKOSISTEM DAN   PENGELOLALAN


I. PENDAHULUAN
Konsep strategi pengelolaan DAS sudah dikenal dibanyak negara maju dan negara berkembang (Philipina, Cina. Jepang dll). Pengelolaan DAS seperti di Indonesia, negara-negara di Afrika dan Amerika Latin dan dinegara Asia lainnya, belum dapat diharapkan hasilnya karena belum adanya kerangka kerja pengelolaan DAS nasional yang benar, sehingga disana-sini timbul masalah kerusakan DAS. Akibat pengelolaan sumber DAS yang buruk dimasa lalu dan sekarang ternyata telah mengurangi secara berarti kondisi 
ekonomi, sosial dan lingkungan disuatu negara/daerah.

Upaya pengelolaan DAS terpadu pertama kali dilaksanakan di DAS Citanduy (1981) dengan kegiatan yang bersifat lintas sektoral dan lintas disiplin. Kemudian dikembangkan di DAS Brantas, Jratun Seluna. Proyek-proyek pengelolaan DAS pada saat itu lebih menekankan pada pembangunan infrastruktur fisik kegiatan konservasi lahan untuk mencegah banjir dan erosi yang hampir seluruhnya dibiayai oleh pemerintah dan bantuan asing. Namun walau upaya pengelolaan DAS yang sudah cukup lama dilakukan, ternyata karena kompleksitas masalah, hasilnya belum memadai, terutama yang berkaitan dengan pembangunan SDM dan kelembagaan masyarakat. Selama ini terdapat beberapa kesalahan pembenaran (myth) pengelolaan yang menyebabkan perbaikan kerusakan DAS seringkali tidak memberikan hasil yang optimum dan malah memperparah keadaan. Sebab-sebab kerusakan DAS antara lain timbul akibat :

a. Perencanaan bentuk penggunaan lahan dan praktek pengelolaan yang tidak sesuai,

b. Pertambahan jumlah penduduk baik secara alami maupun buatan,

c. Kemiskinan dan kemerosotan ekonomi akibat keterbatasan sumber daya manusia, sumber alam dan mata pencaharian,

d. Kelembagaan yang ada kurang mendukung pelayanan kepada para petani di hulu / hutan,

e. Kebijakan perlindungan dan peraturan legislatip, tidak membatasi kepemilikan / penggunaan lahan,

f. Ketidakpastian penggunaan hak atas tanah secara defakto pada lahan hutan.

Kerusakan DAS terjadi dibanyak tempat dengan kuantitas yang berbeda sehingga menimbulkan :

a. Penurunan kapasitas produksi sumber lahan akibat erosi tanah dan timbulnya perubahan kondisi hidrologi, biologi, kimia dan sifat fisik tanh,

b. Pengurangan kualitas dan atau kuantitas air permukaan dan air tanah sehingga menambah resiko kerusakan akibat banjir di hilir,

c. Pengurangan kualitas dan atau kuantitas sumber biomassa alam dan mengurangi perlindungan terhadap penutup permukaan lahan oleh tanaman,

d. Penurunan genetik, jenis dan keragaman ekosistim didalam dan diluar DAS,

e. Kerusakan ekosistim terumbu karang di sekitar pesisir pantai.

Untuk membahas dan mempelajari masalah pengelolaan DAS secara berkelanjutan, maka perlu diketahui mengenai istilah, pengertian dan definisi yang berkaitan dengan pengelolaan DAS tsb, yaitu :

DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) didefinisikan sebagai suatu daerah yang dibatasi oleh topografi alami, dimana semua air hujan yang jatuh didalamnya akan mengalir melalui suatu sungai dan keluar melalui suatu outlet pada sungai tsb, atau merupakan satuan hidrologi yang menggambarkan dan menggunakan satuan fisik-biologi dan satuan kegiatan sosial ekonomi untuk perencanaan dan pengelolaan sumber daya alam.

PENDEKATAN DAS menggunakan pengelolaan DAS untuk perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan pembangunan sumber daya alam. Yang ditanamkan dalam pendekatan ini adalah pengakuan adanya hubungan erat antara lahan dan air dan antara daerah hulu dan hilir, serta pelaksanaan praktek yang tepat, sesuai dengan sasaran.

PENGERTIAN PENGELOLAAN DAS yaitu merupakan suatu kegiatan menggunakan semua sumber daya alam/biofisik yang ada, sosial-ekonomi secara rasional untuk menghasilkan produksi yang optimum dalam waktu yang tidak terbatas (sustainable), menekan bahaya kerusakan seminimal mungkin dengan hasil akhir kuantitas dan kualitas air yang memenuhi persyaratan (N. Sinukaban, 2000).

TUJUAN PENGELOLAAN DAS adalah Sustainable Watershed Development dengan memanfaatkan sumber daya alam didalam DAS secara berkelanjutan dan tidak membahayakan lingkungan di sekitarnya.

PRAKTEK PENGELOLAAN DAS adalah suatu kegiatan perubahan / upaya pengelolaan dalam penggunaan lahan, seperti : penutup tanaman dan kegiatan nonstruktur lainnya serta kegiatan struktur yang dilakukan di dalam DAS untuk mencapai suatu tujuan.

KONSEP DASAR PENGELOLAAN DAS adalah bahwa keberhasilan pengelolaan akan terwujud bila seluruh pengambil kebijakan seperti : pemerintah, badan pemerintahan negara dan internasional, lembaga keuangan dan masyarakat sendiri ikut berperanan secara aktip mengelola DAS untuk memperbaiki kesejahteraan dan sosial ekonomi negara dan manusia. Setiap kegiatan pengelolaan dilakukan berdasarkan pendekatan secara komprehensif oleh semua pihak terkait dengan menggali semua kemampuan potensialnya seperti : pendistribusian makanan yang merata, luas lahan, produksi kayu dan bahan bakar, sistem hidrologi, penyediaan air irigasi, mengurangi kemungkinan banjir, kekeringan dan bahaya alam lainnya seperti erosi, penggaraman dan penggurunan. Juga kebutuhan akan infrastruktur (sarana dan prasarana), pemasaran dan proses perbaikan kondisi masyarakat dan lingkungan sosial-ekonomi seperti : fasilitas kridit, koperasi, pelayanan kesehatan dan pendidikan yang terjangkau.

CIRI-CIRI PENGELOLAAN YANG BAIK yaitu menghasilkan produktifitas yang tinggi dengan meningkatnya : pendapatan; jumlah dan distribusi kualitas dan kuantitas yang baik; mempunyai sifat lentur dan azaz pemerataan.

INDIKATOR PENGELOLAAN DAS YANG BAIK adalah produksi yang berkelanjutan; kerusakan lahan dan air minimum; distribusi hasil air yang berkualitas dan berkuantitas baik; teknologi yang dipakai dapat diterima; dan mensejahterakan seluruh masyarakat yang terkait. Untuk menghasilkan tujuan tsb diperlukan teknologi pengelolaan DAS untuk mengurangi bahaya banjir dan erosi dimusin hujan dan menaikan debit air sungai pada waktu musim kering. Model-model simulasi hidrologi digunakan untuk mendapatkan perubahan tsb berdasarkan teknologi konservasi tanah berupa : cara agronomi; vegetatip; mekanis; dan manajemen. Keberhasilan pengelolaan DAS bukan hanya semata dari tujuan, namun yang penting adalah bagaimana cara mencapai tujuan tsb. Untuk itu diperlukan suatu “usaha/strategi pengelolaan DAS secara berkelanjutan”.

PRINSIP UMUM PENGELOLAAN DAS diidentifikasikan oleh Black (1970), yaitu :

a. Ekologi alami DAS merupakan suatu sistim dan keseimbangan yang dinamis,

b. Mempunyai faktor-faktor yang mempengaruhi run-off,

c. Distribusi air tidak merata dalam siklus hidrologi, sehubungan dengan praktek pengelolaan DAS.

MONITORING DAN EVALUASI

MONITORING adalah suatu kegiatan penilaian yang dilakukan secara terus-menerus pada suatu kegiatan proyek pengelolaan DAS dalam hubungannya dengan rencana kerja pelaksanaan dan penggunaan masukan proyek berdasarkan target jumlah sehubungan dengan harapan perencanaan, jadi merupakan kegiatan proyek secara internal dan merupakan bagian penting dari praktek pengelolaan yang baik, karena itu merupakan bagian terintergrasi dari pengelolaan DAS sehari-hari (W.B/IFAD/FAO-1987). Monitoring juga merupakan suatu kegiatan pengawasan yang dilakukan terus menerus atau secara periodik dari suatu pelaksanaan kegiatan pengelolaan dalam menjamin masukan yang diberikan, rencana kerja, keluaran yang ditargetkan dan kegiatan-kegiatan yang diperlukan lainnya, jadi monitoring merupakan cara kerja yang sesuai dengan perencanaan (UN, 1984). Maksud dari monitoring adalah untuk mencapai kinerja proyek pengelolaan DAS yang efektif berdasarkan ketentuan peninjauan kembali kegiatan pengelolaan proyek pada semua tingkat agar memungkinkan pengelola memperbaiki perencanaan operasionalnya menggunakan kegiatan perbaikan secara cepat pada waktunya. Hal ini merupakan bagian dari sistim informasi managemen yang terintegrasi.

EVALUASI adalah suatu kegiatan penilaian secara periodik terhadap : relevansi, kinerja, efisiensi dan pengaruhnya terhadap proyek sehubungan dengan tujuan yang ingin dicapai. Kegiatan ini umumnya meliputi perbandingan antara informasi yang dibutuhkan dari luar proyek pada suatu waktu, daerah dan populasi (WB/IFAD/FAO, 1987), atau evaluasi adalah suatu proses untuk menentukan secara sistimatis dan obyektif tentang : relevansi, efisiensi, efektifitas dan pengaruh kegiatan sehubungan dengan tujuan yang ingin dicapai, jadi merupakan proses yang berhubungan dengan pengorganisasian untuk memperbaiki kegiatan-kegiatan yang masih dalam proses serta untuk tujuan perencanaan pengelolaan yang akan datang, penyusunan acara dan dalam membuat suatu keputusan.

II. DAS SEBAGAI SATU EKOSISTEM DALAM PENGELOLAAN

Ekosistem DAS merupakan tingkat organisasi yang lebih tinggi dari komunitas, atau merupakan kesatuan dari suatu komunitas dengan lingkungannya dimana terjadi antar hubungan. Di sni tidak tidak hanya mencakup serangkaian spesies tumbuhan dan hewan saja, tetapi juga segala macam bentuk materi yang melakukan siklus dalam system itu serta energi yang diperlukan untuk hidupnya semua komunitas tergantung kepada lingkungan abiotik pada DAS tersebut. Organisme produsen memerlukan energi, cahaya, oksigen, air dan garam-garam yang semuanya diambil dari lingkungan abiotik. Energi dan materi dari konsumen tingkat pertama diteruskan ke konsumen tingkat kedua dan seterusnya ke konsumen – konsumen lainnya melalui jaring-jaring makanan.

Meskipun komponen-komponen biologis dari suatu kolam atau padang rumput nampak berada pada system yang tertutup, namun pada kedua ekosistem itu sebenarnya merupakn system yang terbuka yang merupakan bagian dari system aliran sungai yang lebih besar. Fungsi dan stabilitas kolam dan padang rumput ini sepanjang tahun, sangat ditentukan oleh aliran air, materi dan organisme yang masuk dari bagian-bagian lain dari DAS.

Bukan hanya erosi dan kehilagan unsure hara dari hutan yang terganggu atau tanah pertanian yang rusak yang dapat memurnikan mutu ekosistem – ekosistem ini, tetapi aliran keluar yang mengandung bahan organic yang menyebabkan eutrofikasi (perkayaan) dan pengaruh – pengaruh lainnya di bagianhilir. Kerana itu daerah aliran sungai (DAS) sebagaui suatu keseluruhan, harus dipertimbangkan dalam pengelolaan, bukan hanya tubuh perairannya saja atau areal yang bervegetasi saja. Untuk suatu system pengelolaan yang baik setiap meter persegi air, diperlukan paling sedikit 20 kali luas DAS. Namun demikian perbandingan yang paling tepat sangat tergantung pada curah hujan, struktur geologi dari batua di bawah tanah, dan bentuk topografi.

Pengertian DAS dapat membantu memecahkan masalah-masalah konflik yang dapat terjadi di dalam DAS, misalnya penyebab dan pemecahan masalah pencemaran air tidak dapat dicari hanya dengan memperhatikan airnya saja. Pada umumnya pengelolaan DAS yang tidak baik akan merusak sumberdaya air di dalam DAS. Jadi keseluruhan DAS sungai harus dujadikan sebagai satu unit pengelolaan.

III. PENGELOLAAN DAS

Penyelesaian masalah kepemilikan lahan dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa tindakan berupa pembuatan perundang-undangan sebagai landasan kerja dalam melakukan pengelolaan DAS. Pada tahun 1955 perlindungan DAS dan tindakan pencegahan banjir dengan memberikan kewenangan untuk mengelola fasilitas lahan-lahan DAS menggunakan konservasi tanah dan air. Pencegahan banjir di hulu lebih efektif dibanding dengan pencegahan di daerah hilir. Perdebatan pengendalian banjir merupakan sumber utama friksi antara pengelola tanah yang berwawasan lingkungan pada satu pihak dan teknik pengelolaan tanah dipihak lain.

Perencanaan DAS dilakukan pada skala basin sungai dan kegiatan perencanaan sumberdaya air diciptakan oleh suatu badan pengelolaan sumberdaya air. Adanya kegiatan memfasilitasi pembuatan komisi perencanaan basin sungai dilakukan untuk menyelesaikan semua kegiatan kasus-kasus besar untuk mencapai tujuan secara terbatas dab mengontrol kualitas air. Kegiatan tsb perlu dikoordinasikan dengan perencanan dan pemerintah, membuat penjelasan dan penyebar luasan prinsip dan standar perencanaan pengelolaan air dan sumberdaya lahan.

Hubungan antara penggunaan lahan dan kuantitas air diambil sebagai langkah utama amendemen pengontrolan polusi air yang sekarang dikenal sebagai kegiatan air bersih. Langkah selanjutnya mengontrol kualitas air untuk tujuan mengontrol pengelolaan tanah yang diidentifikasikan sebagai pertanian, perkebunan, pertambangan, konstruksi, peresapan air garam, pembuangan air sisa dan pembuangan di atas tanah dan di bawah permukaan melalui perencanaan pengelolaan buangan yang dilakukan secara luas.

Timbulnya gerakan lingkungan sejak tahun 1960 secara terus menerus menghasilkan tuntutan adanya Pengelolaan Ekosistem yaitu integrasi pengelolaan sumber daya alam lintas kepemilikan di daerah perkotaan yang sama sengan di desa. Bentuk ini memberikan lingkungan yang tepat antara unit hydrophere alami, DAS dan kebutuhan seluruh pengelolaan yang berwawasan lingkungan pada tanah negara dan sumber daya air. Pengelolaan DAS harus tetap fleksibel, sesuai dengan fisik, kimia dan sifat biologi yang berhubungan dengan air. Dari sisi politik, pengelolaan DAS harus juga bertanggung jawab terhadap pemberian kesempatan dan tantangan untuk pencegahan, perbaikan, dan tujuan peningkatan pengolahan terhadap kemerdekaan perseorangan dan kepada tujuan dari masyarakat yang mempunyai sumber alamnya sendiri dan yang akhirnya dilola oleh masyarakat itu sendiri.

IV. PENGELOLAAN DAS DAN PERUBAHAN BERSKALA BESAR


Kesadaran adanya perubahan skala besar pada lingkungan bumi dihasilkan oleh teknologi pengawasan dan modeling seperti timbulnya efek rumah kaca; hujan asam; pengaruh penggunaan bahan rumah tinggal, industri dan bahan kimia yang diperdagangkan pada penahan lapisan ozon. Kedua, efek rumah kaca dan hujan asam merupakan sifat lingkungan bumi yang normal dari kehidupan kita selama ini. Efek rumah kaca mempunyai akibat akhir yang menakutkan yaitu pPeningkatan Efek Global, yaitu menimbulkan:

1. Penambahan kadar CO2 yang ditransfer akibat terbakarnya bahan bakar fosil dan penurunan komposisi organik yang keduanya menggunakan oksigen,

2. Kerusakan daerah hutan secara luas.

Akibat penambahan CO2, akan membatasi keluarnya radiasi gelombang panjang, pembatasan bentuk radiasi dan penambahan temperatur menyebabkan bertambahnya evaporasi. Terjadinya pembakaran fosil akan mengakibatkan bertambahnya evaporasi dan berkurangnya radiasi gelombang pendek yang datang. Persoalan hujan asam diperdebatkan. Hujan umumnya bersifat asam, tetapi asam yang berlebih dari pembentukan dan deposisi asam nitrit dan asam sulfur dari atmosfer, dari air atmosfer akan menimbulkan hujan asam.

V. METODOLOGI MODIFIKASI LINGKUNGAN SUMBER DAYA AIR DALAM PENGELOLAAN DAS


Pengelolaan unit dasar ketersediaan air pada pertemuan udara dan tanah hanya merupakan salah satu dari beberapa metodologi untuk satu atau lebih komponen keseimbangan air bagi keuntungan umat manusia. Metoda lainnya termasuk: pengurangan penggaraman, pengurangan evaporasi, modifikasi cuaca, peredaran dan penguapan air.

  1. Teknik pengurangan kadar garam (Desalinization) adalah suatu cara pengurangan secara lambat laun biaya yang perlu dikeluarkan, namun masih lebih tinggi dari metoda alternatif penambahan persediaan air.. Hal ini dilakukan bila tidak menyediakan air bersih berbiaya tinggi atau biaya energi yang murah. Penggunaan tenaga listrik menyebabkan biaya pengurangan kadar garam menjadi mahal, sementara pengembangan teknologi cenderung berkurang, karena itu, teknik ini hanya mungkin untuk daerah dengan kondisi air yang mengandung garam tersebut.
  2. Pengurangan evaporasi dengan pembentukan lapisan monomoleculer pada permukaan tanah mencegah terjadinya penguapan. Dari hasil penelitian diperoleh besarnya pengurangan evaporasi hanya sekitar 10% akibat kesulitan umtuk memelihara lapisan dengan kondisi cuaca yang tidak cocok, terutama faktor angin dalam menambah kehilangan evaporasi. Angin akan mendorong lapisan monomoleculer ke bagian tubuh reservoir besar dimana kehilangan air yang berkumpul dan menumpuk di sepanjang pantai memyebabkan pengurangan evaporasi yang kecil.
  3. Modifikasi cuaca berupa teknologi memodifikasi lingkungan sumberdaya air banyak digunakan. Pekerjaan utama yang dilakukan saat ini adalah memodifikasi angin topan dan memodifikasi pembuatan halilintar untuk menghilangkan panas pada kejadian pembakaran hutan besar dan untuk menghilangkan hujan es pada daerah dimana kerusakan pada tanaman tertentu; menambah presipitasi untuk mengurangi musim kemarau sementara waktu. Metoda ini menunjukan adanya: biaya penambahan presipitasi yang rendah dan mudah dilakukan; biaya operasi langsung mudah dibayar oleh keuntungan penambahan air yang tersedia; ada keuntungan lainnya untuk ketersediaan air yang berlebihan , yaitu untuk menghasilkan listrik, irigasi dan untuk tanaman makanan ternak.
  4. Pengalihan, dipraktekkan secara luas sejak jaman dahulu menggunakan ketersediaan air yang tidak digunakan/berlebihan atau air tersebut sudah digunakan dan secara lokal tidak tersedia. Pada sebagian daerah panas di USA, teknik pengalihan air memberi peranan penting keberhasilan pemperkenalkan, penggunaan, dan modifikasi pendekatan doktrin hak mengenai air (Blach, 1987) yaitu perlunya ijin pengambilan air dari suatu aliran/DAS dan mengirimkannya ke suatu DAS yang lainnya untuk penggunaan yang bermanfaat, dimana airnya tidak perlu dikembalikan kepada DAS asalnya. Pengaruhnya adalah bertambahnya presipitasi, bertambahnya run-off kepada DAS penerima dan akibatnya mengurangi presipitasi dan run-off pada kedua DAS tersebut, sehingga tentunya berkaitan dengan perubahan pada besarnya erosi dan sedimentasi serta flora dan fauna air.
  5. Penyimpanan merupakan teknik pendekatan yang klasik untuk memecahkan masalah kekurangan air untuk sementara waktu. Fungsi penyimpanan (strorage) terutama untuk menyimpan air, tetapi peningkatan pada suatu danau alami yang ada atau basin lahan basah dan percepatan atau peningkatan kembali penyediaan air tanah, juga termasuk pendekatan yang dapat diterima. Pembuatan strorage sudah dikenal sebagai kebijakan yang bijaksana dan teknologi ini menguntungkan secara ekonomi dan lainnya seperti: untuk tempat rekreasi dan olah raga air, pembangkit tenaga listrik, pelayaran dan pengendali banjir.

VII. PELAKSANAAN PENGELOLAAN DAS


Banyak kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan menata kembali kerusakan lahan yang terjadi dan dilain pihak perlu melakukan pencegahan kerusakan dimasa mendatang. Semua tujuan ini untuk membuat penggunaan lahan menjadi lebih baik akibat keterbatasan lahan dan sumber air yang ada. Ada sejumlah pelaksanaan pengelolaan DAS dapat digunakan dan dapat dikombinasikan satu dengan yang lainnya. Ada tiga sasaran umum kegiatan pengelolaan DAS yaitu:

1. REHABILITASI

Memperbaiki lahan pertanian/kehutanan akibat erosi dan sedimen yang berlebihan dan bahan-bahan yang mudah larut yang tidak diperlukan akibat run-off dll. Metoda rehabilitasi yang digunakan adalah metoda: tanah hutan, rangeland, tanah pertanian dan saluran aliran. Rehabilitasi sering dibatasi untuk DAS kecil; pengertian rehabilitasi sering digunakan untuk membatasi fungsi DAS yang memerlukan penataan kembali.

2. PROTEKSI

Perlindungan tanah pertanian/kehutanan akibat pengaruh yang membahayakan produksi dan kelestarian menggunakan metoda: tanah hutan, rangeland, pencegahan kebakaran, pencegahan terhadap gangguan serangga/hama serta penyakit.

3. PENINGKATAN

Peningkatan sifat sumber air dilakukan dengan manipulasi ciri-ciri suatu DAS akibat pengaruh hidrologi atau fungsi kualitas air. Tujuan penungkatan pengelolaan DAS didasarkan pada pengakuan bahwa sistem tanah-tanaman yang alami tidak memerlukan produksi air yang optimum. Ketergantungan pada tujuan pengelolaan tanah tertentu, neraca air, cara hidup atau kualitas air dapat dirubah. Semua praktek dan program peningkatan yang sekarang dilakukan (kuantitas air dan cara hidup) dan program perlindungan serta perbaikan, bertujuan untuk mengontrol atau menata kualitas air. Pelaksanaannya antara lain adalah:

§ Penebangan dan Perubahan Tanaman

Umumnya tanaman perlu ditebang agar: mempertahankan pertemuan permukaan pada tahun pertama; menghindari gangguan pada proses hidrologi alami pada bidang pertemuan tanah dan air.

§ DAS Perkotaan

Untuk menjaga sumber utama air di perkotaan, diperlukan pengelolaan pengaruh run-off dari DAS sekitar hutan. Pengawasan rutin perlu untuk menjamin jalannya peraturan bahwa air yang mengalir di saluran/sungai tidak digunakan untuk rekreasi, penggunaan secara perseorangan, tempat pembuangan air kotor dan limbah industri.

§ Memperbaiki Aliran

Pembuatan saluran, pemberantasan phreatophyte, kontrol erosi pada tepi sungai, program jalan masuk aliran, drainase, perlindungan dan penataan kembali terhadap perikanan, serta program pengalihan air perlu dilakukan. Banyak pekerjaan saluran berjangka pendek memberikan keuntungan ekonomi kepada organisasi penyalur tenaga kerja untuk menyalurkan pekerja dalam memelihara saluran yang diperbaiki.

§ Modifikasi DAS

Modifikasi DAS dapat dilakukan dengan batasan adanya perubahan pada: besarnya kemiringan tanah, gradient aliran, ukuran dan harus selalu memperhatikan perubahan pada penutup tanaman yang juga dapat berpengaruh pada perubahan albedo dan berakibat pada banyaknya pola evaporasi dan run-off.

VIII. PENUTUP

1. Adanya perubahan yang terjadi dari ketiga sasaran kegiatan pengelolaan DAS di atas adalah fakta timbulnya perubahan alam yang umumnya merugikan, akibat air yang selalu bergerak lebih rendah akan berpengaruh pada kualitas air.

2. Konsep strategi adalah merencanakan dan menggunakan usaha-usaha untuk mencapai pengelolaan DAS secara berkelanjutan sambil melestarikan dan melindungi DAS dari kerusakan yang terjadi. Usaha yang utama adalah melindungi dan membentuk hutan lindung dan hutan suaka dalam suatu DAS dan melindungi kemerosotan mutu tanah dan air yang berkaitan dengan usaha peningkatan produksi barang dan jasa dalam pengertian ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan. Usaha tersebut membutuhkan penyediaan sumberdaya alam (air, tanah, lahan) yang cukup terjamin baik kualitas maupun kuantitasnya.

3. Paradigma lama pengelolaan DAS menekankan pola Top-Down di tingkat kebijakan, operasional dan pelaksanaan, namun penekanan pada bidang fisik dan ego-sektoral sekarang ini sudah ditinggalkan akiibat kegagalan-kegagalan usaha perbaikan DAS. Paradigma baru yang sekarang dilakukan adalah pemberdayaan masyarakat petani didalam usaha pengelolaan DAS ditingkat opersional dan pelaksanaan, menggunakan sistem Bottom-Up dan program pegelolaan dilaksanakan secara terpadu oleh para pengambilan keputusan. Ada beberapa hal yang penting didalam paradigma baru adalah:


READ MORE - TUGAS TEKNIK SUNGAI

Jumat, 25 Maret 2011

TUGAS TEKNIK SUNGAI


Karakteristik dan Morfologi Sungai
1. Kenapa dalam membuat konstruksi yang yang melintang di sungai selalu
mempertimbangkan kondisi morfologi dari sungai ?
Jawab : Membuat bangunan melintang sungai baik berupa Bendung
maupun bendungan, jembatan dengan pilar ± pilarnya selalu
menimbulkan 2 akibat :
(a) Perubahan sungai ke arah horisontal terhambat,
(b) Air dan sedimen dibelokkan, sehingga konsentrasi sedimen berubah.
Data fisik yang diperlukan:
(a) Kandungan dan ukuran sedimen,
(b) Tipe dan ukuran sedimen,
(c) Distribusi ukuran butir,
(d) Banyak sedimen
(e) Pembagian sedimen secara vertikal dalam sungai,
(f) Data historis degradasi dan agradasi sungai.berubah. morfologi sungai.
2. Paparkan pertimbangan lokasi menurut morfologi sungai dalam
pembangunan bendung dan bangunan pengelak.
Jawab:
(a) Pilih bagian sungai lurus, tidak ada gerusan;
(b) Pilih lembah yang sempit (biaya murah);
(c) Keperluan elevasi muka air;
(d) Ketersediaan bahan bangunan.( material )
3. Jelaskan criteria sunga stabil dan sungai yang labil secara morfologi.
Jawab;
Sungai stabil: tebing dari batuan kokoh, dasar sungai adao ut c rop
(batuan), atau batubatuan besar

Sungai labil: penuh kerikil dan pasir, tebing tidak kokoh, tidak adao ut c ro p ,
alur berpindah (semi braiding). Sungai bermeander: berkelok,
berpindahpindah, melewati aluvial, konsentrasi endapan tinggi, sungai
melebar, degradasi tinggi.
Erosi dan Transport Sedimen pada Sungai
1. Berikan solusi / usaha yang relatif ideal dalam pengendalian erosi DAS.
Jawab: Pengendalian erosi DAS yang relatif edeal ada beberapa
pendekatan yang dipakai yaitu :
a. Kegiatan yang bersifat Teknik Sipil
b. Kegiatan yang bersifat Teknik Pertanian
Kegiatan teknik sipil meliputi :
1. Pengerukan dasar sungai, tebing sungai dan muara sungai
2. Pembuatan sidatan sungai, supaya sedimentasi dialirkan ke
tempat- tempat yang perlu penimbunan atau di buang ke laut.
3. Pembuatan bendungan pengendali sedimen (check dam atau
consolidation dam).
4 Khusus untuk mengamankan daerah irigasi dan saturan PLTA di
bangun struktur khusus yaitu pintu pengurasan yang dilengkapf
dengan konstruksi pembilas di bawah pintu (Under Flushing),
saluran pengendapan pasir dan kolam pengendapan pasir
Kegiatan Pertanian.
1. Menghutankan daerah hulu dan daerah tengah.
2. Reboisasi daerah-daerah gundul
2. Bagaimana melindungi tebing sugai dengan kondisi tanah yang porus dan
gembur terhadap erosi ?
Jawab: Bila teing sungai tersebut kemiringannya < 600 disarankan
menanam rumput vetiver ( akar wangi ) karena rumput jenis ini mempunyai
akar serabut bila tumbuh di tanah yang porus dan gembur akarnyag bisa
mencapai kedalaman 3 m, denga demikian akan mencegah erosi dengan
baik.
3. Berikan solusi dalam pengendalian sedimen.
Jawab:
A. Bendung Pengendali Sedimen ( Sabo Dam)
Manfaat yang dapat diambil dengan pembuatan Sabo dam adalah :
-
Sebagai tempat penampungan sedimen yang terbawa air sebagai
hasil erosi dari hulu DAS.
-
Dapat mengurangi debit banjir dibagian hilir bendungan.
-
Apabila volume tampungan air cukup besar clapat digunakan
sebagai persediaan air.
-
Sebagian air yang meresap di tanah di bawah dasar waduk akan
memperbesar cadangan air tanah 

B. Perbaikan Alur Sungai Pada Kipas Pengendapan
Perbaikan alur sungai arus deras hampir sama dengan perbaikan sungai
dataran rendah yaitu mengusahakan agar bagian sungai yang melintasi
daerah kipas pengendapan dapat mencapai kondisi yang stabil, tetapi jika
sediment masih terus mengalir secara berlebihan memasuki bagian sungai
tersebut dan mengendap, .dengan demikian diperlukan perbaikan alur
sungai pada kipas pengendapan untuk mencegah pengendapan,
mengurangi intensitas meander dan mencegah gerusan local.
C. Pengendalian Sedimen Dengan Sistem Waduk
Penegendalian sedimen dengan sistem waduk ini dengan memperkirakan
besarnya pengaliran sedimen pertahun dengan prosedur sebagai berikut:
1. Pendekatan menggunkan rumus Schocklitz
2. Mengadakan studi yang terangkut dimuara sungai, dimana ada
sungai tersebut akan dibangun bendungan besar untuk waduk
3. Mengadakan studi perbandingan pada waduk-waduk yang jadi
Setelah itu menganalisa besar kapasitas tampungan sedimen (Dead
Storage) dan menentukan elevasi tertinggi dari tampungan sedimen,
kemudian menentukan volume cadangan guna menentukan elevasi
terendah dari pada bangunan pengambilan air (Water Intake)
E. Pengendalian Sedimen dengan Sistem jetty
Pengendalian sedimen dengan sistem jetty agar muara sungai tetap terbuka
arah daratan yang membawa sedimen sehingga muara tertutup. Pada musim
hujan muara sungai akan terjadi danau dan endapan-endapan sungai
dimuara dihanyutkan oleh arus banjir dan profil sungai kembali pada posisi
semula.
Konstruksi jetty bermacam-macam yaitu:
1. Urugan tanah
2. Urugan batu
3. Beton
4. Tiang pancang beton/baja
F. Pengendalian Sedimen Dengan Sistem Kolmatase
Pengendalian sedimen dengan sistim Kolmatase ini untuk keperluan
perikanan,pertanian,pemukiman,industri
dan
lain-lain.Untuk
keperluan
tersebut kadang-kadang diperlukan agar dasar danau,rawa atau paya
dinaikkan,untuk menaikkan diperlukan sejumlah sedimen.
Sedimen dari sungai sengaja dialirkan dengan membuat saluran-saluran
baru. Karena proses waktu endapan pada danau atau rawa dapat dinaikkan.
Survei dan peralatan ukur di sungai
1. pengukuran apa saja yang diakukan di sungai ?
Jawab :
Beberapa pengukuran di sungai :
1.
Pengukuran tinggi muka air
2.
Pengukuran penampang basah sungai 
3.
Pengukuran debit cara langsung
4.
Pengukuran debit cara tidak langsung
2. Jeaskan Kenapa harus dilakukan survey di sungai
Jawab:
Bentuk ataupun sifat tiap sungai berbeda-beda sehingga perilaku
sungai hanya dapat dipahami dengan baik apabila disertai dengan
pengamatan-pengamatan dan pengukuran-pengukuran yang dicatat
untuk dipakai sebagai data empirik.
3. Jelaskan cara pengukuran sungai dengan merawas.
Jawab:
Dilaksanakan bila kedalaman air < 1 m dan kecepatan aliran tdk
membahayakan, Menggunakan batang pengukur sebagai alat untuk
memasang alat ukur arus dan sekaligus sebagai alat pengukur
kedalaman.
Hal-hal yang harus diperhatikan :
Š Petugas berdiri45 cm di sebeah hilir
ŠBatang pengukur tegak lurus dari dasar sungai dengan jarak 2,5
7,5 cm di hilir kabel
Š Posisi kabel tegak lurus terhadap pengaliran
Š Bila kondisi kabel tdk tegak lurus maka kecepatan yg diperoleh
dikalikan dengan faktor pengali yg besarnya sama dengan ³sinus sudut´
antara arah kecepatan terukur dengan kabel yang terpasang
Š Jika penyimpangan sudut < 5º % tdk dilakukan koreksi
ŠJika penyimpangan sudut 5º - 30º dilakukan koreksi
Pengaturan Alur Sungai
1. Faktor Pertimbangan apa saja yang dilakukan dalam normalisasi alur
sungai ?
 Jawab: Prtimbangan yang dilakukan dalam ormalisasi alur sungai
adalah
Faktor teknis, meliputi stabilitas alur untuk jangka panjang
Faktor ekonomis, meliputi, analisa optimasi terhadap beberapa
alternatif, termasuk biaya pelestarian fungsidan dimensi
Faktor lingkungan
2. Atas pertimbangan apa sudetan dibuat .
Jawab: Pada ruas sungai yang belokan-belokannya sangat tajam atau
meandernya sangat kritis, maka tanggul yang akan dibangun biasanya
akan menjadi lebih panjang. Selain itu pada ruas sungai yang demikian,
gerusan pada belokan luar sangat meningkat dan terjadi kerusakan
tebing sungai yang akhirnya mengancam kaki tanggul. Sebaliknya pada
belokan dalamnya terjadi pengendapan yang intensif pula.Guna
mengurangi keadaan yang kurang menguntungkan tersebut, maka
pada ruas sungai tersebut perlu dipertimbangkan pembuatan alur
baru,atau Sudetan.
3. Faktor apa yang menentukan dalam pengerukkan sebuah sungai.
Jawab: Faktor-faktor pengerukan antara lain :
Menetukan material yang harus dikeruk
Penelitian jenis material yang harus dikeruk (sifat fisik, kimia), untuk
menentukan peralatan yang digunakan, serta memprkirakan
kemungkinan pengaruh pencemaran yang mungkin terjadi
Menentukan lokasi penimbunan material hasil pengerukan dan
pemanfaatan tempat penimbunan
Pengaturan debit
1. Dalam mengatur debit langkah apa yan harus dilakukan
Jawab:
Pengaturan debit sungai/banjir dapat juga dilakukan melalui kegiatan
pembangunan : bendungan dan waduk banjir, tanggul banjir, palung
sungai, pembagi atau pelimpah banjir, daerah retensi banjir, dan sistem
polder.
2. Bagaimana pengendalikan backwater akibat dari bendung ?
Jawab;
Efek backwater bisa dihindari dengan pemilihan tipe bendung gerak
dengan demikian muka air bisa diatur sesuai yang diinginkan.
3. Solusi apa yang ditawarkan untuk menurunkan intensitas banjir ?
Jawab:
Faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas, frekuensi banjir dan dampak
banjir meningkat, adalah :  
a.Turunnya kemampuan DAS dalam meresapkan/menahan air hujan  
b.Kemampuan prasarana-sarana pengendali banjir yang masih
terbatas  
c.Kemampuan pemerintah untuk membangun prasarana-sarana banjir
yang masih sangat terbatas  
d.Adanya dampak perubahan iklim global  
e.Perilaku masyarakat yang tidak kondusif dalam pengelolaan banjir
Solusi yang ditawarkan adalah Meningkatkan kemampuan das dengan
peghijauan, perbaikan prasarana pengedali banjir, penyuluhan kepada
masyarakat tentang pentingnya mejaga dan melestarikan hutan DAS.
Pengaturan Muka Air Sungai
1. Menaikan muka air sungai dengan membangun bendung untuk navgasi
akan mengakibatkan terjadi perubahan terhadap kondisi lingkungan
sungai, bagaiman solusi yang diambil untuk meminimalisir efek yang
timbul.
Jawab: Dalam membangun bendung tentu akan merobah kondisi
ekosistim di lingkungan bendung tersebut, untuk meminimalisir efek yang
timbul maka perlu dilakukan pembangunan dengan pendekatan eko
hidrolik.
2 Jelaskan tujuan dari pengaturan muka air sungai.
Jawab: Menaikkan elevasi muka air sungai agar dapat mengalir secara
gravitasi memasuki suatu pintu pengambilan atau intake irigasi, PLTA
atau air industri. Dengan menaikkan dan mengatur elevasi muka air di
dalam alur pelayaran akan didapat kedalaman air yang diinginkan,
kecepatan aliran yang tidak terlalu besar .
3. Jelaskan Syarat layaknya sungai seagai jalur navigasi.
Jawab
Syarat layaknya sungai sebagai jalur navigasi adalah sebagai berikut:
a.Mempunyai kedalaman yang sesuaidengan draft kapal yang
diizinkan melayarinya.
b.Lebar sungai dan lintasan alinment sungai tidak terdapat kelokan
tajam.
c.Kecepatan alirantidak teralu besar.
d.Dlengkapi dengan bendung-bendung untuk menaikkan muka air
Penampungan dan Proteksi banjir.
1. Jelaskan rekayasa teknik dalam pegendalian banjir.
Jawab:
Rekayasa teknis ³structural measures´ dengan membangun prasarana
Keairan,
a. Pembangunan situ dan waduk
b. Pembangunan dam pengendali aliran air sungai
c. Pembuatan sodetan
d. Pembuatan tanggul banjir
e. Normalisasi alur sungai
f. Pembangunan kanal banjir
2. Jelaskan pula rekayasa non teknis.
Jawab:
Rekayasa non teknis ³non structural measures´ mengendalikan kegiatan
manusia yang tinggal di sepanjang bantaran banjir/sungai,
a. Penentuan peil banjir
b. Sistem pemberitahuan dini (early warning system) ketika datangnya
banjir
c. Program evakuasi korban banjir
d. Pengaturan tata guna lahan
e. Pengaturan ³river block plan´
f. Meningkatkan kepedulian masyarakat dalam pemeliharaan sungai
dan bantarannya
g. Perbaikan kelembagaan pengendalian banjir
3. Jelaskan factor ± factor yang mempengaruhi terjadinya banjir.
Jawab:
Faktor pertama adalah hidroklimat tropis (hujan dengan intensitas tinggi dan
yang berlangsung lama), misalnya yang terjadi pada tahun 1996 dan 2002 di
Jakarta

Faktor kedua adalah karakteristik geografis dengan ciri perkotaan yang
kuat, bahkan terjadi overpopulation di beberapa pulau seperti Jawa dan
Bali. Dalam banyak kasus khususnya Jakarta, proses urbanisasi anarkis
dan invasi lahan-lahan rawan banjir di sempadan sungai adalah hal yang
lazim.
Parahnya, proses urbanisasi tidak hanya terjadi di daerah hilir dimana
kota-kota




READ MORE - TUGAS TEKNIK SUNGAI

Entri Populer