Dalam kehidupan yang kita jalani ini, tentu berbagai persoalan dan masalah akan kita hadapi, persoalan dan masalah tersebut sebagai wujud kecintaan Allah kepada kita sehingga kita selalu mengingat Nya untuk itu perlu kita belajar tiga hal belajar bersukur,belajar penghormatan, belajar mendoakan orang lain

Rabu, 30 Maret 2011

tugas teknik pantai

Kerentanan Masyarakat Pesisir Indonesia
terhadap Perubahan Iklim Laut

1.Pendahuluan
Sebagai negara kepulauan dengan jumlah pulau 17.504 dan panjang garis pantai 81000 km, Indonesia sangat rentan terhadap kenaikan muka air laut. Nicholls, dkk. (2000) memetakan daerah rentan terhadap kenaikan muka air laut setinggi 45 cm pada tahun 2080 (Gambar 1). Prediksi terakhir yang dibuat oleh Working Group I Panel Antar-Pemerintah tentang Perubahan Iklim pada bulan Februari 2007 yang berhubungan dengan laut menunjukkan bahwa tingkat muka air laut naik rerata sebesar 2,5 mm/tahun dan diperkirakan akan terus mencapai 31 mm pada dekade berikutnya. Panel Antar-Pemerintah tentang Perubahan Iklim dalam laporannya mengupas secara tajam dampak dan kerentanan secara regional
Gambar 1 Peta Daerah Rentan dengan Asumsi Kenaikan Muka Air Laut 45 cm pada Tahun 2080 (Nicholls dkk., 2000)


2. Dampak Perubahan Iklim Laut di Indonesia
Berikut beberapa catatan tentang kemungkinan dampak perubahan iklim laut yang akan menimpa Indonesia.
1. Wilayah yang paling rentan dan sekaligus paling parah mengalami dampak perubahan iklim adalah negara-negara kepulauan. Meningkatnya tinggi muka laut dan suhu air laut akan meningkatkan erosi, mengurangi daya tahan alami bakau dan terumbu karang, dan pada gilirannya menghantam industri pariwisata. Tanpa peningkatan kemampuan beradaptasi, negara kepulauan akan mengalami peningkatan suhu udara dan akan menderita lebih parah lagi karena berkurangnya produksi pangan dan pasokan air bersih.
2. Dalam waktu kurang dari lima puluh tahun, sebagian terbesar daratan Asia hampir dipastikan akan mengalami dampak yang hebat dari banjir, kekeringan, dan kelaparan. Dampak ini menimpa lebih dari satu miliar penduduk Asia. Angka ini sangat fantastis karena dalam 10 tahun mendatang jumlah penduduk yang akan terpengaruh baru sepersepuluhnya.
3. Peningkatan tinggi muka air laut yang akan menggenangi kawasan yang dihuni jutaan manusia di delta dan daerah aliran sungai-sungai besar seperti Musi, Mahakam, Ciliwung, Cimanuk, Citarum, Bengawan Solo, dan Memberamo.
4. Mengenai variabilitas iklim, kondisi dan prediksi IOD (Indian Ocean Dipole) + El Nino, belakangan ini memang agak unik. Di Samudra Hindia terjadi fenomena IOD positif, sementara di Samudra Pasifik terjadi fenomena La Nina. Gabungan IOD positif dan La Nina ini sangat jarang terjadi. Terakhir muncul 40 tahun yang lalu, yaitu tahun 1967-1968. Dengan melemahnya fase p-IOD di Samudra Hindia dan menguatnya sinyal La Nina di Samudra Pasifik, terjadilah hujan di berbagai kawasan sebelah barat Samudra Pasifik, termasuk Indonesia. BMG mencatat terjadi peningkatan curah hujan yang cukup signifikan di sebagian besar wilayah pulau Jawa jika dibandingkan dengan periode yang sama untuk bulan-bulan sebelumnya. Dampak dari kenaikan curah hujan, khususnya di wilayah Jakarta sudah dirasakan penduduk di kawasan langganan banjir
5. Tentang pengaruh Pemanasan Global terhadap badai tropis, menurut penelitian Vecchi dan Soden (2007), badai semakin intens di Samudra Pasifik (Juni-November) dan di Samudra Hindia (Desember-Mei). Bahkan Professor Yamagata pada bulan Oktober 2007 di Hiroshima menerangkan bahwa ada evolusi El Nino menjadi El Nino Modoki (pseudo) sebagai penyebab badai Katrina di Amerika beberapa waktu yang lalu.
6. Gejala munculnya badai tropis di sekitar wilayah Indonesia lebih disebabkan oleh induksi akibat rotasi siklonik badai tropis yang masih berpengaruh sampai lintang 5° LU (Ahrens, 1993), sementara itu wilayah selatan yang dibatasi garis lintang 11° LS berada di luar kisaran. Badai tropis ini melepas energinya lewat angin yang bertiup kencang disepanjang perairan yang dilewatinya. Laut akan menyalurkan energi tersebut dalam bentuk gelombang yang menjalar mengikuti kontur batimetri dan teredam di perairan pantai akibat efek kedangkalan.
7. Energi besar yang disalurkan tersebut menyebabkan volume air didorong ke pantai meningkat dengan tajam (storm surge). Dan apabila hal ini bersamaan waktunya dengan saat pasang tinggi (high tide), badai pasang ini akan melanda wilayah pantai dan sekitarnya. Gelombang Pasang ini dikenal sebagai Tidal Bore, menjalar dari lepas pantai masuk ke mulut sungai dengan kecepatan sekitar 5 m/detik (10 knot) dan tinggi 2,5 m. Pada wilayah perairan Indonesia yang mempunyai muara sungai yang cukup banyak dan dipengaruhi oleh gaya pasang surut serta diapit oleh Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, tersimpan peluang sering terjadinya fenomena Tidal Bore.


Gambar 2
Daerah pantai pada ketinggian kurang dari 10 meter di atas permukaan air laut dengan kepadatan penduduk lebih dari 1.000/km² (IIED, 2007).
3. Masyarakat Pesisir Paling Rentan
Karena pentingnya dampak dan kerentanan tersebut, Universitas Columbia menerbitkan sebuah peta yang menunjukkan bahwa daerah pantai pada ketinggian kurang dari 10 meter di atas permukaan air laut dengan kepadatan penduduk lebih dari 1.000/km² yang rentan terhadap kenaikkan permukaan air laut di Indonesia (gambar 2), seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya adalah kota yang diperkirakan akan mengalami dampak paling parah akibat kenaikan permukaan air laut (CIESIN, 2007).

4. Penutup
Dampak perubahan iklim laut merupakan tantangan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Tulisan ini akan memaparkan beberapa langkah yang diperlukan, antara lain :
1. Perumusan upaya mengurangi kerentanan kota pantai akibat dampak fenomena perubahan iklim laut, seperti Gelombang Pasang (Tidal Bore), Gelombang Badai (Storm Surge), Alun (swell), Rob (Coastal Inundation), IOD, El Nino/La Nina dan perubahan paras laut memang diperlukan sedini mungkin.
2. Upaya utama yang patut segera dilakukan adalah menyusun Rencana Strategis Program Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Laut di Indonesia. Indonesia memiliki panjang pantai sekitar 81.000 km, dengan muara sungai yang cukup banyak dan sekitar 41,6 juta penduduk Indonesia tinggal didaerah dengan ketinggian 10 meter di atas permukaan air laut. Artinya, mereka merupakan penduduk Indonesia yang paling rentan terhadap perubahan permukaan air laut (IIED, 2007). Karena itu, pemetaan daerah rentan dan perhitungan dampak ekonomisnya di Indonesia menjadi sangat mendesak untuk dilakukan.
3. Identifikasi tingkat kerentanan berbagai unsur ekosistem untuk berbagai Tipe Pantai baik itu Rona Lingkungan Pantai Alami dan maupun Rona Lingkungan Binaan (Kota/Desa) sangat diperlukan untuk menghadapi dampak perubahan dan variabilitas iklim laut.
4. Menentukan pengurangan dampak bukan hanya terhadap unsur prasarana dan sarana, dan /atau sumberdaya alamnya, melainkan juga risikonya terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Karena itu, penangannya bukan hanya melakukan pengelolaan dan pemantauan Lingkungan/Sumberdaya Alam di Pantai dan Laut, melainkan juga penanggulangan terhadap Populasi di Kota Pantai, baik sebelum kejadian tiba, maupun selama dan pascakejadian.
5. Penentuan dampak perubahan dan variabilitas iklim laut di Indonesia harus mempertimbangkan 4 langkah analisis, yaitu zonasi, penentuan tingkat perlindungan, penentuan teknologi perlindungan, dan penentuan biaya perlindungan berdasarkan skenario yang dipilih.
Saran
1. Dampak perubahan iklim laut seperti kenaikan muka air laut, Gelombang Pasang (Tidal Bore), Gelombang Badai (Storm Surge), Alun (swell), Rob (Coastal Inundation), sudah sangat terasa di Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan proporsi penduduk yang sangat besar di wilayah pesisir, sangat penting untuk segera dilakukan observasi dan pemetaan daerah rentan dan perhitungan dampak ekonomis yang akan timbul.
2. Hasil observasi dan pemetaan daerah rentan dan perhitungan dampak ekonomis akan sangat membantu dalam alokasi dana pembangunan. Dengan demikian, diharapkan pelaksanaan pengelolaan sumberdaya alam yang efektif, adil, dan berkelanjutan akan terwujud.

Comments :

0 komentar to “tugas teknik pantai”

Posting Komentar